Sekolah Pluralisme dan Penghayat Kepercayaan Adat Musi di Talaud

by
Para peserta bersama fasilitator SP mengunjungi Komunistas Penghayat Kepercayaan Allah dalam Tubuh (Adat) Musi, Rabu 26 September 2018 sore.

Talaud – Sinode Am Gereja (SAG) Sulutteng kembali melaksanakan program “Sekolah Pluralisme”  atau SP yang keempat di Jemaat Germita Torsina Bitunuris, Kecamatan Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Selasa – Kamis (25-27/09/2018).

Menariknya, para peserta bersama fasilitator SP mengunjungi Komunistas Penghayat Kepercayaan Allah dalam Tubuh (Adat) Musi, Rabu 26 September 2018 sore. Lokasinya berada di Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Kunjungan yang merupakan salah satu agenda kegiatan SP yakni “kunjungan ke komunitas lintas iman/etnis” dimulai dari Desa Bitunuris. Rombongan tiba di Desa Musi, di depan tempat suci Penghayat Kepercayaan Adat Musi, dan disambut Suenaung Panahal selaku pemimpin kepercayaan. Bersama Ice Panahal, dia memberi penjelasan tentang Penghayat Kepercayaan Adat Musi. Untuk sampai ke tempat suci harus menaiki anak tangga yang lumayan banyak. Ada 218 anak tangga. Tempat suci dari komunitas Penghayat Kepercayaan Adat Musi adalah tempat suci turun temurun. Mereka juga memiliki tempat persujudan, lokasinya berada di dalam kampung yang mulai disebut gereja pada tahun 1980. Sebelumnya hanya disebut sebagai tempat persujutan.

Ice dan Suenaung menjelaskan, Penghayat Kepercayaan Adat Musi lahir pada tahun 1884 dengan pembawa kepercayaan adalah keluarga Bawangin Panahal yang saat itu sibuk dengan penyembahan berhala.

Ketika ibu Bawangin mengandung, dia mengalami penglihatan dari Tuhan tentang anak yang dikandungnya.

Ice menuturkan, setelah usia Bawangin 40 tahun, dia berpuasa 10 hari di tempat suci dan dicobai iblis. Selama melakukan puasa itulah Bawangin mendapat penglihatan dan diangkat ke surga dengan papan emas selama 8 jam. Bubungan rumah terbuka, Bawangin kembali pukul 05.00 Wita pagi. “Itu terjadi pada akhir bulan. Maka dari itu di setiap akhir bulan ada upacara ritual dari Penghayat Kepercayaan Adat Musi. Hari raya jatuh pada 29-30 Agustus,” tutur Ice.

Ada beberapa ritual yang dilaksanakan yakni, penurunan pedang, bibit, padi, dan penan. Ada juga ritual pertobatan yang dilaksanakan pada hari Jumat jam 8 malam yang dilaksanakan di tempat persujudan Gereja Adat Musi. “Hari Sabtu ada ibadah ritual yang diakhiri dengan pendalaman penghayatan,” papar Ice.

Komunitas Penghayat Adat Musi kini berjumlah 280 orang. Mereka terbuka dengan siapa saja yang mau datang berdoa. Sebelum memulai seluruh kegiatan diawali dengan doa. Semua doa dalam bahasa Talaud. Kitab sucinya adalah “Buku Pembawa Damai” dan kepercayaan mereka adalah “Allah Dalam Tubuh”.

Ada beberapa keunikan yang didapati baik di tempat suci maupun dalam kehidupan sehari-hari dari Penghayat Kepercayaan Adat Musi, yaitu: tidak boleh menggunakan pakaian atau barang yang berwarna merah. Juga tidak minum the, hanya air rebus jeruk nipis. Ada gambar yang disebut gambar hidup dengan penjelasan-penjelasannya yang ada dalam ruangan tempat suci. Mereka juga tidak makan daging dan telur, hanya makan makanan vegetarian. “Saat makan tidak boleh menghadap ke arah laut,” ungkap Ice.

Kunjungan ke Komunitas Penghayat Kepercayaan Adat Musi menambah wawasan dan pengetahuan tentang kepercayaan adat yang masih sanagat melekat di daerah Talaud. “Khususnya bagi kami para peserta yang mengikuti Sekolah Pluralisme,” ucap salah seorang peserta SP.

 

Penulis: Yolanda Tiara Runsude

Editor: Yoseph E Ikanubun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *