Mereka Bicara tentang Sosok Gus Dur

by
Suasana mengenang Gus Dur yang digelar di Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia, Manado.

Manado – Abdurahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009. Mengenang 9 tahun kepergian Presiden ke- 4 Republik Indonesia itu, komunitas Gusdurian Manado dan Lesbumi Sulawesi Utara menggelar rangkaian kegiatan bertempat di Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia, Kelurahan Malendeng, Manado, Selasa (01/01/2019).

Dipandu pegiat Lesbumi Sulut, Taufik Bilfaqih, rangkaian kegiatan dibuka dengan pembacaan doa-doa untuk mengenang kepergian tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini. “Hari ini kita berkumpul, anak bangsa lintas agama, lintas suku dan budaya, untuk mengenang kepergian sosok Gus Dur, seorang pejuang kemanusiaan,” ujar Bilfaqih.

Selanjutnya Koordinator Gerakan Cinta Damai Sulut (GCDS), Yoseph E Ikanubun didaulat untuk memberikan pendapatnya tentang sosok Gus Dur. Dia kemudian mengisahkan pengalamannya bertemu dengan Gus Dur, saat tokoh pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu berkunjung ke Sulawesi Utara di tahun 2001. Ketika itu, Gus Dur menyampaikan orasi di GOR Kampus Unima di Tondano serta berdialog dengan masyarakat di aula Ignatius Manado. “Gus Dur ini bapak bangsa, pembela kaum marginal. Beliau berjuang berlandas kemanusiaan,” ujar Ikanubun.

Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Sulut 01 Manado, Syamsul Ulum dalam penyampaiannya mengenang sosok Gus Dur yang tak pernah membedakan anak bangsa atas dasar Suku, Adat, Ras, dan Agama. “Karena atas dasar kemanusiaan,” ujar Syamsul.

Dia juga menceritakan bagaimana ketika pemimpin Jemaat Ahmadiyah internasional berkunjung ke Indonesia di mana banyak pihak yang menolak, Gus Dur tampil membela. “Gus Dur banyak membela Jemaat Ahmadiyah. Kami sangat kehilangan, apakah ada pengganti beliau?” ujar Syamsul.

KH Ahmad Rajafi mengenang Gus Dur sebagai sosok yang tidak mau merendahkan orang lain. Dia mencontohkan makna ziarah kubur yang sering dilakukan oleh Gus Dur. “Pesan yang ingin disampaikan adalah tidak pantas kita yang masih hidup merasa diri Tuhan, dan merendahkan orang lain,” ujar salah satu Wakil Dekan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado.

Rajafi selanjutnya mengajak semua anak bangsa untuk menumbuhkan kembali semangat dan pemikiran serta perjuangan Gus Dur. “Yang pengikut Gus Dur, mesti baca buku-buku tentang Gus Dur. Sehingga pemikiran beliau bisa terus diwariskan,” ujar Rajafi.

Hal senada disampaikan KH Rizali M Nur. “Kita membesarkan Gus Dur melalui pemikiran, membesarkan diri kita, dengan terus melanjutkan pemikiran dan perjuangan beliau,” ujar dia.

Sulaiman Mapiase, salah satu Wakil Rektor IAIN Manado, mengisahkan tentang sosok Gus Dur selama kuliah di Kairo Mesir dan Baghdad Irak. Dari kisah yang didengar Sulaiman, sosok Gus Dur ini selama kuliah lebih sering nonton bioskop.

Setelah ditelusuri ternyata penyebabnya adalah materi-materi perkuliahan yang disampaikan di perguruan tinggi tersebut sudah dikuasai oleh Gus Dur. “Maka banyak orang menilai sosok Gus Dur ini sangat cerdas. Apalagi sebelum beliau terserang stroke,” papar Sulaiman.

Rangkaian kegiatan mengenang Gus Dur ini digelar secara sederhana dengan nuansa penuh kekeluargaan sesama anak bangsa serta diisi dengan pagelaran seni dan budaya.

Hadir dalam acara ini, GP Ansor Manado, Gusdurian Manado, Lesbumi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), GCDS, aktivis mahasiswa, politisi, serta Ponpes Al Hikam Manado.

Plt Ketua Lesbumi Sulut, Mardiansyah Usman menyampaikan terima kasih untuk semua pihak yang mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. “Semoga nilai-nilai perjuangan Gus Dur terus kita lestarikan,” ungkap Mardiansyah didampingi Koordinator Gusdurian Manado, Rahman Mantu.

Penulis: Linda Setiawati
Editor: Yoseph E Ikanubun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *