Meliput Pemilu, Media dan Jurnalis Harus Independen

by
Dipandu moderator Taufani (akademisi IAIN Manado), selain Via juga hadir dua pemantik diskusi yakni Komisioner Bawaslu Kota Manado, Taufik Bilfaqih, dan Denni Pinontoan (akademisi UKIT).

Manado – Menjadi pilar keempat dalam demokrasi, masih ada pers yang belum menjalankan tugasnya secara profesional. Padahal media dan jurnalis harus independen dalam menjalankan tugasnya, sehingga kepercayaan publik terhadap pers tetap terjaga.

Hal ini disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado, Yinthze Lynvia Gunde saat Focus Group Discussion (FGD) yang digelar, Kamis (13/12/2018), di kantor DPD RI Sulut.

Yinthze mengatakan, berbicara Pemilu dalam kaitannya dengan media di Sulut, memang masih banyak hal yang perlu diperbaiki. “Bagaimana ada media yang dibayar untuk mengklaim dan memberitakan terlebih dahulu hasil Pemilu, padahal hasil resmi perhitungan suara dari KPU belum ada,” papar Via, sapaan akrab wartawan Harian METRO ini.

Terkait profesionalisme jurnalis, dia mengatakan, masih ditemui banyak jurnalis yang suka berkampanye di media sosial untuk kepentingan politik atau figur tertentu. “Padahal jurnalis itu harus independen. Karena kita menjalankan kepercayaan publik. Ketika kita berpihak kepada kekuatan politik tertentu, itu mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap profesionalisme jurnalis,” papar Via.

Dalam kondisi seperti itu, lanjut Via, AJI sebagai organisasi profesi yang menjunjung tinggi idealisme dan independensi terus mengingatkan bahkan mengawasi anggotanya untuk selalu professional dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik. Termasuk dalam meliput momentum politik seperti Pemilu.

Dia mencontohkan bagaimana sikap media dan jurnalis dalam memberitakan kegiatan reuni 212 di Jakarta. Meski dituding oleh Prabowo bahwa media tidak fair dalam memberitakan jumlah peserta reuni tersebut, menurut Via, media dan jurnalis punya perhitungan tersendiri. “Media tidak memberitakan begitu saja klaim jumlah sekian juta reuni, tapi bikin perhitungan bagaimana luasan area Monas dan sekitarnya sehingga dapat dihitung berapa banyak orang yang hadir,” papar dia.

Dipandu moderator Taufani (akademisi IAIN Manado), selain Via juga hadir dua pemantik diskusi yakni Komisioner Bawaslu Kota Manado, Taufik Bilfaqih, dan Denni Pinontoan (akademisi UKIT).

FGD yang mengangkat tema “Pemilu, Media, dan Keragaman” ini dihadiri puluhan peserta yang berasal dari berbagai komunitas, lembaga, organisasi mahasiswa dan masyarakat sipil. Selain itu juga dari Penghubung Komisi Yudisial (PKY) Sulut.

Diketahui, FGD yang digelar oleh Gerakan Cinta Damai Sulut (GCDS) bekerjasama dengan AJI Manado ini merupakan rangkaian Festival Keragaman 2018.

Penulis: Yoseph E Ikanubun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *