Malalantang Usulkan Pemkot Tomohon Miliki Rumah Potong Hewan

by
Malalantang bersama Dinas Pariwisata Kota Tomohon saat sosialisasi pengembangan destinasi.

Tomohon – Menyikapi sorotan tentang pasar ekstrim Tomohon, Drevy Malalantang selaku Direktur Stiepar Manado angkat bicara. Dia memberikan solusi sehingga hal ini tidak menimbulkan polemik yang berkepanjangan yang akan menjadi ancaman bagi pariwisata Tomohon, Sulawesi Utara bahkan Indonesia.

Hal ini disampaikan Malalantang ketika tampil menjadi narasumber pada acara sosialisasi pengembangan destinasi yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Tomohon, salah satu materinya adalah Sadar Wisata dan Sapta Pesona pada Jumat (23/11/2018) di Tomohon.

Menurut Malalantang, perdagangan daging di pasar ekstrim sah saja, ini ada karena budaya kuliner Minahasa yang sejak dulu mengkonsumsi daging yang tidak umum dikonsumsi. Misalnya daging anjing, tikus, kelelawar, ular, di mana daging jenis ini diperdagangkan di Pasar Tomohon. Hanya saja cara potongnya yang harus diatur agar tidak ada kesan sadis di sana.

Malalantang menegaskan, hal itu pernah disorot di panggung internasional karena ada video yang beredar, serta beberapa pemberitaan nasional yang telah menyorotnya. Dia mengatakan, sebenarnya tidak ada bedanya dengan hewan lain seperti babi, sapi, kambing yang ketika dibawa ke pasar sudah dalam keadaan dipotong dan bersih.
Tidak ada kesan pembantaian di pasar yang dipertontonkan di kalangan umum. “Kecuali satwa yang sudah langka dan tergolong satwa dilindungi hal ini harus dilarang,” imbuh malalantang.

Terkait kondisi itu, dia mengusulkan ada rumah potong hewan di Kota Tomohon. Hal itu untuk menghindari pemotongan hewan di pasar. Semua hewan yang akan dijual di pasar harus lewat rumah potong agar lebih tertib dan terjamin higenitas, kualitas dan kesehatan dagingnya. Hal itu erat kaitannya dengan kemanan pangan atau HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) adalah suatu sistem jaminan mutu, yang mendasarkan kepada kesadaran atau penghayatan bahwa hazard (bahaya) dapat timbul pada berbagai tahap. Mulai dari produksi penyimpanan sampai proses dapat dilakukan pengendalian untuk mengontrol.

Dia mencontohkan, daging RW yang selama ini dijual di pasar yang akhirnya dikonsumsi di rumah makan, konsumen tidak tahu keberadaanya dan tidak ada yang menjamin bahwa daging itu bebas dari bibit virus rabies misalnya. “Kalau daging hewan yang sudah melewati rumah potong hewan akan mendapat packaging dan tera untuk menjamin jenis daging dan kesehatannya,” ujar Malalantang.

Dia mengatakan bahwa hal itu akan menjadi solusi dikarenakan adanya komplain dari beberapa komunitas pencinta hewan yang telah dibawa ke panggung internasional. “Ini akan menjadi ancaman bagi Kota Tomohon yang sedang membangun pariwisatanya sebagai sektor unggulan,” tandas dia.

Penulis: Ishak Kusrant

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *