Kisah Perempuan Pembuat Arang Tempurung

by
Mikke Loho, pembuat arang tempurung asal Pulau Manado Tua. (foto: drevy malalantang)

Manado – Berbagai kearifan lokal dan budaya dapat dijumpai di Pulau Manado Tua sebagai destinasi pariwisata baru di Kota Manado.

Salah satu material pendukung wisata kuliner di Manado yang sedang naik daun yakni ikan bakar yang dijual diberbagai restoran ikan bakar di Manado.

Untuk mendapatkan cita rasa ikan bakar restoran atau pun rumah makan yang menjual membakar ikan dengan bara tempurung untuk proses pematangan sebut saja ikan bakar rica rica.

Di ibalik kelezatan ikan bakar ada material penting yang mendukung proses membakar ikan yakni arang tempurung. Salah satu produksi arang tempurung dipasok dari Pulau Manado Tua.

Mikke Loho, adalah seorang ibu bermukim di Desa Batu Layar, sehari-hari pekerjaannya membakar tempurung kelapa untuk dijadikan arang tempurung.

“Arang tempurung ini dijual ke pedagang ikan bakar di Manado dengan harga Rp70.000 untuk satu karungnya,” kata Mikke, pekan lalu.

Menurut Mikke, dalam satu minggu ia mampu memproduksi 18-20 karung dan dalam satu Minggu omsetnya bisa mencapai Rp1.500.000.

“Membuat arang tempurung membutuhkan waktu sehari penuh untuk membakar tempurung dalam drum dan ditutup dengan daun wokka. Lalu keesokan harinya sudah di paking untuk dijual ke Manado,” ujarnya.

Mikke adalah petani penggarap lahan. dalam bahasa lokal disebut ‘bakopra’ atau memproduksi kopra dari kelapa. Hasil produksi kopra akan dibagi dua dengan pemilik lahan, sembari bekerja kopra dia membuat arang tempurung untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari. Selain membuat arang tampurung, Mikke juga menanam pisang sepatu agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Penulis: Ishak Kusrant

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *