Cerita Seru dari Event I6DE ke IX Luwuk – Manado

by
Penutupan kegiatan malam itu dipenuhi canda tawa dalam nuansa kekeluargaan yang hangat.

Manado – Pelaksanaan event Indonesia Six Days Enduro (I6DE) ke IX di tiga provinsi yakni, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara berlangsung sukses. Misi kampanye pemilu damai, melawan hoax dan intoleransi disampaikan puluhan pemotor. Ada juga cerita seru tentang kebersamaan, sebagai satu keluarga besar.

Selain berpetualang, 50 offroader yang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulteng, Sulbar, NTT, Sumut, Jambi, Lampung, Banten, Jabar, Jateng dan Jakarta, juga punya cerita masing-masing. “Kita memang membawa misi Pilpres damai, lawan hoax dan intoleransi,” ujar Erick, pihak panitia.

Dandy, offroader asal Team BAI Jakarta mengungkap ada rasa kebersamaan, kekeluargaan seluruh offroader saat menaklukkan alam di tiga provinsi yang ada di pulau Sulawesi itu. Terkadang, mereka harus jatuh bangun karena ganasnya lintasan yang ditempuh. “Kami lihat pemandangan, pantai, angin yang sepoi-sepoi. Lalu kami jatuh, bangun lagi, jatuh dan bangun lagi,” ujarnya dengan kocak saat penutupan event tahunan Enduro Totale Indonesia di Big Fish Restaurant Manado, Sabtu (10/11/2018) malam.
Dandy berharap kebersamaan itu bisa terjadi lagi pada pelaksanaan I6DE ke-X di Minangkabau, Sumatera Barat, tahun depan.

Cerita lainnya diungkapkan Bambang. Bahwa puluhan offroader ini menempuh jalur yang tidak biasanya, karena menggunakan sistem Global Positioning System (GPS). Kondisi ini membuat para offroader yang menentukan jalan dari etape ke etape berikutnya. Jalur yang ditempuh pun menjadi lebih menantang karena harus melewati pegunungan, sungai dan bahkan tebing yang terjal. “Kadang melewati kuburan, atau terhalang pohon. Ada jalur yang sempit hanya pas-pasan untuk dilalui motor. Pemotor harus berhenti sejenak untuk menghilangkan keram di tangan,” ungkap Bambang.
Dia menambahkan, jalur penuh tantangan itu yang dinikmati pada offroader. “Kalau ikut jalan raya, mereka lebih memilih motornya dinaikkan ke mobil saja,” ujar dia.

Cerita seru juga datang dari Agus. “Saya jatuh terguling-guling ke sungai yang kering. Akhirnya harus WO alias walk out,” tandas Agus.
Meski menempuh perjalanan yang cukup berat, puluhan pemotor ini begitu menikmatinya. Penutupan kegiatan malam itu dipenuhi canda tawa dalam nuansa kekeluargaan yang hangat.

Penulis: Yoseph E Ikanubun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *