Cara Pemerintah Kabupaten Minahasa Atasi Rabies

by

Tondano – Rabies adalah salah infeksi berbahaya yang datang dari anjing yang terkena virus. Dalam istilah awam, rabies termasuk salah satu penyakit berbahaya yang dikenal juga sebagai penyakit anjing gila.

Biasanya menyerang sistem saraf otak dan dapat menyebabkan masalah serius hingga berujung kematian pada korban, termasuk manusia.

Di Kabupaten Minahasa sendiri, berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Peternakan pada tahun 2018 terdapat 235 kasus gigatan. 152 kasus di antaranya harus ditangani dengan metode one health. Metode ini pada dasarnya melibatkan sebagian pemangku kepentingan di antaranya petugas kesehatan masyarakat, petugas kesehatan hewan domestik serta hewan liar dan masyarakat. Mereka saling melaporkan setiap kejadian gigitan rabies yang terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Minahasa.Karena wilayah ini masuk dalam golongan wilayah endemik rabies, termasuk Kota Tomohon, Manado dan beberapa wilayah lain di Sulut. “Namun belum ada laporan korban jiwa akibat gigitan anjing. Artinya, semua kasus gigitan baik anjing maupun kucing bisa ditangani dengan baik,” ujar Kepala Seksi Kesehatan Hewan Bidang Peternakan dan Kesehatan, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Minahasa dr Louis Kamaunang, Rabu (03/10/2018).

Penanganan metode one health ini, lanjut Kamaunang, sejauh ini telah menangani sebagian besar kasus gigitan hewan. Penanganan dengan motede ini mulai berlaku di Kabupaten Minahasa sejak tahun 2017. “Sejak akhir 2017, telah menjalankan pendekatan one health untuk penanganan zoonosis yang berkonsentrasi pada rabies,” ungkapnya.

Sejauh ini, sekitar 41 persen kasus gigitan sudah ditangani dengan motede ini. Sementara masalah utama sebelum adanya konsep one health ini adalah koordinasi dan inforamsi antar pemangku kepentingan termasuk petugas kesehatan. “Informasi nanti menyebar jika ternyadi Iyssa atau kematian pada manusia akibat rabies. Sekarang kami saling kerjasama, alhasil inforamsi dengan cepat masuk. Dengan begitu masing-masing kakmi bisa tahu apa yang harus kami lakukan untuk bisa merespon informasi cepat tersebut,” lanjut Kamaunang.

Di lain pihak, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Minahasa, Frangky Polii menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya untuk menekan kematian akibat rabis dengan pencegahan. Salah satu caranya melalui vaksinasi Anti Rabies (VAR) kepada hewan peliharaan. “Beberapa bulan belakangan ini petugas vaksinasi sudah turun di puluhan desa dan kelurahan se-Kabupaten Minahasa untuk memberikan suntikan vaksin anti rabies bagi hewan peliharaan warga,” katanya.

Pemberitan VAR ini, lanjut Polii dilakukan tanpa biaya. Ini bertujuan agar vaksin bisa dilakukan secara merata kepada setiap masyarakat. Namun, lebih diprioritasikan di daerah-daerah dengan angka gigitan tinggi maupun di daerah yang diektahui terdapa anjing yang positif rabies. “Pemberian vaksinasi ini gratis alias tidak dipungut biaya. Memang banyak yang kita tangani, sebab dari sekitar 60 ribu ekor anjing di Minahasa, 20 persen diantaranya sudah tervaksin. Kendalanya yaitu ketersediaan tenaga vaksinasi saja,” ungkapnya.

Polii juga menjelaskan bahwa hewan penular rabies yang disuntik seharusnya dikarantina salama dua pekan. Jika dalam darah hewan tersebut terdapat virus rabies, hewannya pasti akan mati. “Tapi kalau setelah dua pekan hewan tersebut tidak mati, berarti sehat atau tidak tergolong anjing atau kucing rabies,” tutupnya.

Selain rabies, anjing dan hewan juga dapat menjadi bidang penularan penyakit zoonosis. Ini adalah penularan penyakit seperti bakteri atau protozoa dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

 

Penulis: Wirno Bungkul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *