Bagaimana Jurnalis Meliput Isu LGBT?

by
20 jurnalis yang hadir dari berbagai kota di Indonesia juga saling berbagi pengalaman mereka saat melakukan liputan mengenai LGBT.

Jakarta – Penting untuk menjernihkan perspektif jurnalis saat bekerja terutama meliput isu sensitive seperti SARA, hingga isu sosial seperti Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender(LGBT).
Terkait itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama dengan Ardhanari Institute sepakat mengadakan workshop yang dilanjutkan dengan lesson learn bertema “Keberagaman Gender dalam Perspektif HAM.”
Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen Abdul Manan mengatakan, sebelum menulis dan menayangkan karya jurnalistiknya, seorang wartawan perlu menjernihkan perspektifnya. Workshop Keberagaman Gender dalam perspektif HAM, menurut Abdul Manan, menjadi tempat yang tepat bagi seorang wartawan untuk melihat isu-isu keberagaman gender dengan perspektif netral dan humanis. “Prinsip Kode Etik AJI adalah bagian dari komitmen dan tanggung jawab etik kita sebagai wartawan untuk menempatkan kelompok minoritas dalam porsi yang benar dan professional. AJI membela semua kelompok yang HAM-nya tertindas. AJI membela hak kelompok minoritas,” ujar Abdul Manan ketika menyampaikan sambutannya dalam lesson learn sebagai bagian “Keberagaman Gender dalam Perpsektif HAM” yang digelar di Jakarta, Selasa (30/10/2018).
Abdul Manan menambahkan, bagi orang awam, memberikan stigma apalagi stigma negatif masih mungkin terjadi. Tapi hal tersebut pantang dilakukan oleh jurnalis. “Pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh AJI adalah bagian dari cara AJI memberikan perspektif yang jernih pada jurnalis agar mampu menyampaikan karya jurnalistik tanpa menghakimi,” papar Abdul Manan.
Komisioner Komnas HAM Muhammad Nurkhoiron juga menilai saat ini segala bentuk diskriminasi terhadap kelompok LGBT makin meluas dan sistematis.
Dia mengatakan, tindakan diskriminatif terhadap kelompok LGBT terjadi karena masih banyak orang yang menganggap LGBT merupakan bagian dari penyakit mental yang harus disembuhkan. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan seharusnya bisa memberikan informasi yang benar terkait LGBT, sehingga tidak memunculkan beragam stigma negatif dan prasangka buruk. Sayangnya itu belum terjadi. “Padahal negara wajib melindungi secara khusus, dengan afirmative action. Saat ini kita mengalami kevakuman HAM. Hampir semua pasal dalam konstitusi kita tidak ada turunan perspektif HAM,” ujarnya.
Nurkhoiron menilai, kelompok LGBT adalah kelompok minoritas, yang malah sering menjadi sasaran kebijakan yang tidak berperspektif HAM. Menurutnya, perkembangan kasus LGBT di Indonesia mengalami kemunduran karena LGBT selalu dikaitkan dengan persoalan agama. “Sewaktu UNDP menarik dananya hingga US$3 juta, saya sangat menyayangkan itu. Apalagi program yang terkait dengan isu LGBT ternyata hanya lima persen dari anggaran sebesar itu,” ujar dia.
Setelah kasus itu dia bertemu dengan banyak pihak, dan juga menyurati Bappenas. “Ternyata jawaban mereka semua hampir sama dengan MUI. Mereka menjawab, kasus ini mengganggu konstitusi,” ujar Nurkhoiron.
Ia menyesalkan terjadinya berbagai kasus penyerangan, kesewenang-wenangan, dan kekerasan terhadap kelompok LGBT. Ia menengarai, stigma dan tuduhan soal LGBT lebih bersifat pragmatis dan politis.
Dalam lesson learn tersebut, 20 jurnalis yang hadir dari berbagai kota di Indonesia juga saling berbagi pengalaman mereka saat melakukan liputan mengenai LGBT.
Hal yang nyaris sama yang mereka sampaikan adalah banyak narasumber dari kelompok LGBT yang akhirnya mundur teratur karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya, teman-teman mereka, dan keluarganya.
Para jurnalis ini juga saling mengonfirmasi bahwa isu LGBT kerap tinggi intensitasnya menjelang Pilkada, Pileg, dan Pilpres. “Sepertinya setiap menjelang pesta politik, isu LGBT kembali ramai dengan berbagai hoaxnya,” ujar Ervan, peserta dari Jakarta.
Menyadari isu ini bukan lagi isu sosial, namun sudah menjadi ‘gorengan politik,’ para jurnalis sepakat menahan diri untuk tidak meneruskan atau mempublikasian informasi apapun yang tak jelas soal LGBT, kecuali mereka sudah berhasil melakukan konfirmasi.
Mereka juga sepakat untuk tak larut dalam pemberitaan masif soal LGBT, kecuali mengedepankan pertimbangan HAM.
Dari Manado, ada dua anggota AJI yang terpilih mengikuti fellowship tersebut yakni Yoseph E Ikanubun (kabarmanado.com) dan Isa Anshar Jusuf dari manadosiana.com.

Penulis: Yoseph E Ikanubun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *